Kho Susanti : Menanam Jagung Hibrida Sebagai Alternatif Mengatasi Kesulitan Ekonomi Masyarakat

Delikcom.com, PONTIANAK – Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) provinsi Kalimantan Barat, Kho Susanti, S.Pd bersama dengan kabid Pertanian dan petugas CPCL Dinas Pertanian Singkawang melakukan kunjungan kerja ke petani Jagung, Selasa (3/11) yang lalu.

Menurut Kho Susanti, S.Pd, kunjungan kerja dilakukan ke dua Desa Centra Jagung Hibrida yaitu Desa Pamilang ( Trans SP1 dan SP2) dan Desa Sagatani yang mana kedua Desa tersebut terdapat luas lahan tertanam 350 Ha dengan produksi jagung tiga bulan sekitar 1.575 ton.

” Berdasarkan hasil kunjungan kami kesana ternyata hasil produksi ini belum dapat memenuhi konsumsi peternak ayam lokal (pedaging dan petelur) yang ada di Singkawang. Selama ini untuk mencukupi kebutuhan konsumsi peternak lokal tersebut maka jagung dibeli dari Kabupaten Bengkayang, Sintang dan lain-lain,” kata Kho Susanti, Kamis (5/11).

Ditambahkannya, kunci utama untuk masalah penanaman jagung hibrida oleh masyarakat adalah bagaimana pihak Pemerintah Daerah agar dapat mendorong para pelaku usaha untuk dapat beternak ayam baik pedaging ataupun petelur karena semakin banyak pengusaha ternak ayam (petelur dan pedaging) maka semakin banyak hasil produksi jagung hibrida dapat diserap.

“Saat saya reses dibeberapa Desa di Kecamatan Tumbang Titi, Pemahan, Nanga Tayap, dibulan Oktober lalu, saya mendapatkan keluhan masyarakat terutama masalah yang berkaitan dengan ekonomi masyarakat yang semakin sulit selain karena covid juga terutama karena petani karet mengeluh harga karet basah hanya Rp.4.000,–/kg dan plasma sawit eks PT.Benua Indah ( tanam tahun 1993) mereka mengeluh bahwa pohon sawitnya sudah mulai non produktif,” paparnya.

Lebih lanjut Kho Susanti mnerangkan, Permohonan masyarakat saat dirinya reses adalah bagaimana dia dapat membantu mencari solusi kesulitan ekonomi mereka yaitu dengan mendorong pemberdayaan ekonomi Masyarakat.

” Untuk itulah saya menyarankan ke masyarakat bahwa menanam jagung adalah salah satu alternatif untuk mengatasi kesulitan ekonomi masyarakat kita khususnya Kabupaten Ketapang. Untuk Kabupaten Ketapang Peternak ayam (petelur ) saja ada 3 lokasi yaitu dua di Desa Sei Awan dan 1 Desa mekar Utama ( Dusun Sukaria). Selain peternak ayam petelur, juga ada peternak ayam pedaging mandiri yang datanya masih menunggu data dari Kabid Peternakan Kabupaten Ketapang,” ungkapnya.

Para peternak ayam lokal (petelur dan pedaging ) merupakan faktor pendukung utama untuk menampung hasil panen jagung petani jagung di Kabupaten Ketapang. Selama ini tiga peternak ayam petelur dengan kebutuhan sekitar rata-rata sekitar 270 ton pertiga bulan mereka membeli dari Semarang karena petani jagung lokal tidak ada.

” Jika ini kita hitung 1 ha menghasilkan minimal 4-5ton/ha pertiga bulan maka tanaman yang bisa dicover oleh ketiga pengusaha ternak ayam petelur tersebut, seluas 60 ha ( 60 x 4.5 ton/ha). Ini tentu saja tidak banyak namun jika masyarakat sudah memulai menanam dan ternyata tanaman tersebut memang menguntungkan tentu saja penanam jagung akan bertambah dengan sendirinya,” cetusnya.

Maka agar masyarakat kita bisa menanam lebih banyak jagung tugas Pemda kita terutama bagaimana mendorong pengusaha ternak ayam terutama ayam pedaging yang selama ini membeli dari Kal-teng, agar hasil petani jagung kita dapat menjual hasil produksinya. Karena jika hasil produksi dijual keluar daerah biaya transportasinya mahal.
Seperti di Provinsi Gorontalo, masyarakat sebagian besar menanam jagung dan ini merupakan bukti nyata bahwa menanam jagung itu menguntungkan dan pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Kedepannya saya akan berusaha untuk mencoba menanam jagung hibrida ini di Desa Pengatapan, Kecamatan Tumbang Titi, sebagai proyek percontohan dan semoga berhasil dan agar dapat menjadi contoh untuk masyarakat yang berminat untuk budidaya jagung hibrida ini. Memang tidak mudah untuk pemberdayaan budi daya jagung hibrida ini karena merupakan jenis tanaman yang baru dan adanya keterbatasan penampung hasil produksinya. Namun dengan adanya niat baik dan kerja sama yang baik dari berbagai pihak yaitu Pihak Pemda, Legistatif, pengusaha ternak dan petani jagung hibrida, maka pemberdayaan ini akan berhasil lebih baik. Semoga budi daya jagung ini akan menjadi salah satu alternatif untuk masyarakat untuk mengatasi kesulitan ekonominya,” lanjutnya.

Dirinya berharap adanya perhatian Pemda Ketapang agar dapat mendorong pelaku usaha agar mau beternak ayam terutama peternak ayam pedaging dan mendorong budidaya jagung hibrida termasuk memberikan bantuan sarana dan prasarananya. (Wan)