Terungkap Teroris di Kalbar, Kabinda Minta Masyarakat Cerdas

Kepala Badan Intelijen Daerah (Kabinda) Kalbar, Brigjen Pol. Rudi Tranggono

Delikcom.com, Pontianak- Belum lama ini Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri berhasil mengamankan seorang terduga teroris di Kalbar.

Terkait dengan adanya teroris di Kalbar, Kepala Badan Intelijen Daerah (Kabinda) Kalbar, Brigjen Pol. Rudi Tranggono mengistilahkan jika Pontianak dialiri oleh sungai yang besar, meski sungai itu tidak berombak namun akan menghanyutkan.

Bacaan Lainnya

“Begitu juga dengan adanya terorisme yang ada di Kalbar ini, padahal kita selama ini sama sekali tidak menganggap ada teroris di sini, namun ternyata ada yang ditangkap di Kalbar seperti,” ungkap Rudi Tranggono pada, Senin (16/8).

Mereka yang terlibat jaringan teroris, disinyalir ada juga orang asli Kalbar yang sudah di doktrin, sengaja dipengaruhi dan dicuci otaknya dengan paham-paham radikal sehingga nanti dapat melakukan aksi teror yang dapat meresahkan masyarakat.

“Memang di Pontianak ini belum, tapi kita jangan lengah karena bisa menjadi bibit, karena yang kemarin ditangkap itu adalah mereka yang bertugas mencari dana untuk kegiatan-kegiatan amaliyah melalui kotak-kotak amal yang ada di restoran, masjid-masjid yang tanpa kita mengetahui jika uang itu untuk mendukung kegiatan mereka,” terangnya.

Padahal, kata Kabinda niat masyarakat yang menyumbang adalah baik karena untuk bersedekah, namun oleh kelompok-kelompok menggunakan uang sedekah itu untuk kegiatan terorisme.

“Ini sangat bahaya, sehingga kita harus tetap waspada, namun kita harus optimis karena nawaitu kita untuk bersedekah. Namun harus waspadalah jangan sampai uang sedekah dari kita itu digunakan untuk organisasi teroris,” sarannya.

Dirinya menyarankan agar warga tetap cerdas saat bersedekah, kalau ada kotak amal yang mengatasnamakan yayasan yatim piatu atau pondok pasantren harus dicek apa ada terdaftar di instansi pemerintah yayasan-yayasan itu.

“Kemarin saya ada penerimaan untuk tenaga kesehatan, dari 40 orang yang mendaftar setelah diseleksi tinggal 9 orang, dari 9 orang itu yang tidak paham Pancasila ada 3 orang, dan yang berpaham radikalisme dari hasil TWK dan mental ideologi ada 6 orang. Artinya anak muda yang tidak paham Pancasila dan berpaham radikalisme sekarang sudah banyak,” jelasnya.

Menurut dia itu adalah fakta karena baru mengambil sampel 9 orang, dan bagaimana kalau diambil sampelnya sebanyak 1000 orang.

“Saya sebagai Kabinda meminta kepada instansi terkait untuk bersama-sama, sehingga jangan sampai anak muda mau agama ataupun suku apa terpapar radikalisme,” jelasnya.

(sus)

(Visited 167 times, 1 visits today)

Pos terkait