Tuntut PT USP, 12 Tahun Kebun Sawit Plasma Masyarakat Belum Terima Hasil

Ratusan warga datangi kantor PT USP. (jans)

Delikcom.com, Ketapang – Kekecewaan warga dari 7 desa yang terdiri dari desa Sengkuang Merabung, Pelampangan dan Pakit Selaba dari Kecamatan Manis Mata serta desa Semantun, Asam Jelai, Periangan, Penyarang kecamatan Jelai Hulu terhadap PT Umekah Sari Pratama (USP) dilakukan dengan aksi penutupan akses jalan demi untuk mendapatkan kejelasan terkait nasib mereka.

Warga merasa di zholimi oleh PT USP lantaran lahan warga yang dikelola oleh PT USP menjadi kebun kelapa sawit namun sudah berjalan sekitar 12 tahun masyarakat belum menerima hasil dari kebun tersebut. Atas dasar tersebut untuk mendapatkan kejelasan masyarakat mengambil sikap menutup akses jalan aktifitas perusahaan, Kamis (24/2/2022).

Bacaan Lainnya

Ketua BPD Semantun, Kartio saat dikonfirmasi menjelaskan, penutupan akses jalan ini adalah sebagai reaksi kekecewaan masyarakat yang sudah lama kepada PT. USP sebagai perusahaan pengelola tanah yang diberikan masyarakat untuk kebun kelapa sawit dengan pola kemitraan 80% untuk perusahaan dan 20% untuk masyarakat yang menyerahkan lahan perkebunan.

” Selama 12 tahun lebih masyarakat tidak mendapatkan hasil yang memadai dari kebun yang dikelola oleh perusahaan. Selama ini masyarakat hanya memperoleh uang kompensasi sebesar Rp110.000 per hektar,” ujarnya.

Menurutnya, kesabaran masyarakat sudah tidak tertahan lagi akan sikap perusahaan seperti ini ditambah lagi adanya penangkapan dan penahanan warga Desa Semantun berinisial CR yang diduga telah melakukan pencurian kelapa sawit di area perusahaan tanpa diketahui oleh pihak keluarga sehingga membuat keresahan masyarakat semakin memuncak.

Menurut keterangan Keluarganya, penangkapan dan penahanan CR sangat tidak lazim karena keluarga tidak mengetahui kabar dan keberadaan CR selama beberapa hari.

Baru diketahui CR telah diamankan ke Mapolda Kalimantan Barat setelah mendapat informasi Kapolsek Jelai Hulu Polres Ketapang setelah 4 hari kemudian.

Lebih lanjut keuarga CR juga merasa heran mengapa CR tidak disidik di Polsek Jelai Hulu atau di Polres Ketapang tetapi langsung ke Polda Kalbar Pontianak.

Aksi ratusan massa ini menuntut PT. USP mencabut laporan atas dugaan pencurian kelapa sawit terhadap CR dan permintaan agar PT. USP secepatnya melakukan penyerahan lahan plasma petani.

Kapolsek Jelai hulu, AKP Zuanda, SH saat dikonfirmasi menyebut, penahanan dan penyidikan CR telah melalui mekanisme dan standar operasional prosedur yang benar.

“Terlambatnya informasi kepada keluarga hanya disebabkan miskomunikasi serta faktor kendala lainnya seperti jaringan selular yang kurang baik,” ujarnya.

Kapolsek juga menjelaskan, Polda menjadi induk penyidikan untuk wilayah hukum Kalimantan Barat dengan demikian penahanan dan penyidikan CR tidak di Polsek atau di Polres tidak menjadi kesalahan mekanisme penyidikan.

Hingga berita ini dibuat, keterangan terkait penyebab hingga 12 tahun lebih masyarakat belum mendapat hasil yang layak, belum didapat karena managemen yang berkapasitas menjelaskan hal ini tidak dapat dihubungi.

(Jans / wan)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
100 %
Surprise
Surprise
0 %
(Visited 547 times, 1 visits today)

Pos terkait